KARENA TERBIASA
Aku
dilahirkan belasan tahun yang lalu, bukan untuk menjadi perempuan yang lemah.
Bukan menjadi perempuan yang menyerupai lelaki, menyukai dunia luar, aku tidak
begitu. Aku lebih suka berdiam dan mencari – cari apa yang bisa kulakukan.
Saat
aku duduk dibangku sekolahan yang orang – orang katakan aku seorang Anak Baru Gede (ABG), aku mengenal
seorang teman lelaki yang tak begitu tinggi, hampir sama denganku, memiliki
dada bidang saat itu, berjalan tegap. Namanya tak akan kusebutkan. Ia yang menemaniku
bertahun – tahun hingga aku tak lagi menggenakan seragam, seharusnya begitu.
***
Ditemani
sunset pinggir kota, kuteteskan air mata disela percakapan kami. Hingga air
mata itu menjadikan semakin terasa sesak didadaku. Ambisi kedua orang tuaku
sebelum mereka tau apa yang mengalir diantara kami berdua yang mau tak mau
harus aku penuhi, memisahkan aku dari kota ini. Termasuk juga kamu. Diatas
benteng kota kami mengucapkan janji untuk saling bersama, dan menunggu. Masih
tersimpan hangat dalam ingatanku. Masih bersamanya, kala itu.
Hingga
kulepaskan seragamku, seharusnya?!, lebih pantas kusebutkan menerima ijazah
sekolah menengah terakhirku, dan hingga terbongkar semua yang selama ini kami
tutupi, ia pun juga lepas dari genggamanku selama bertahun – tahun. Senja itu
ditepian air yang menggenang, aku kembali meneteskan air mata. Terucap dari
bibirmu, kita tak lagi cocok. Pupuslah semua mimpiku, tepatnya mimpi kita. Dan
kau pun pergi. Seseorang yang masih hangat dalam ingatanku.
Berbulan
aku tak pernah bertemu denganmu, bahkan kau yang sengaja menutup, menghindar
dariku. Namun beberapa dari yang kau miliki masih ada bersamaku. Ditengah terik
tepian gerbang tempat aku menimba ilmu sekarang, aku dapat lagi menggenggan
tanganmu, walau hanya sesaat. Melihat kembali senyum yang pernah menemaniku
bertahun – tahun. Aku kembali teringat, menangis dan sesak kurasakan didada
ini. Begitu juga engkau, aku tau?! Hatimu masih bergetar.
***
Setahun
dimana kita dipisahkan karena keadaan, kelelahan. Kamu kembali. Tapi kini sudah
ada dia yang kukenal baik, lelaki yang hampir seukuran denganmu, lebih tinggi,
kupikir, labih kurus, namun tak setegap kamu, yang bisa kucintai meski tak
seperti aku mencintaimu dulu, lelaki yang membawaku ke dalam kehidupannya. Dan
kau hadir mengusik kehidupanku lagi. Meski masih jelas diingatan bagaimana
sakitnya saat kau pergi, tapi aku mecoba melupakan sakit itu, tepatnya aku
berpura – pura melupakan hal itu. Tapi ia hadir mampu menghapus air mata ini,
mengobati luka ini meski bekasnya tetap ada dan tak mungkin menghilang sampai
akhir hidupku.
Dia
datang mampu menghapus rasa dihatiku, baik rasa benci maupun cintaku padamu.
Dia yang takkan kusebutkan namanya mampu membangkitkan rasa yang pernah mati
selama setahun ini. Dan aku mulai terbiasa dengannya, dengan cintanya, sikap
manisnya dan juga janji – janji manisnya.
***
Namun
ternyata aku salah, sangat salah. Dia tak bisa sepertimu dan seharusnya aku tak
mengharapkan seseorang yang menjadi dirimu, namun bayangmu masih menghantui dan
masih jelas terasa. Keributan mulai menghiasi saat ia meragukan sebuah hal yang
selama bertahun aku dengamu. Aku yang baru saja tersenyum, harus kembali
merasakan sesak yang teramat sangat. Hingga akhirnya ia pergi dengan alasan
dihatinya masih tersimpan hati wanita lain. Yang selama ini aku tak pernah tau
hal itu.
***
Sore
itu diantara sapuan lembut angin sore, kupelankan putaran roda kuda besi yang
mengantarkan aku kembali menghela napas lega setelah seharian dipengapnya area
kampus yang terbilang sangat sempit dan cukup seadanya. Dari arah yang
berlawanan aku melihat sosok yang tak asing bagiku, benar kamu memang sangat
kukenal, seorang lelaki yang bertahun – tahun menghiasi hariku. Itu adalah
kamu. Menyusul putaran roda kuda besiku
yang terbilang pelan, karena aku cukup lelah hari itu, kudengar putaran roda
yang menyususlku dan pelan saat disampingku, itu kau? Oh Tuhan, bergetar hati
ini. Sapaan lembutmu mengacaukan lamunanku. Aku hanya tersenyum namun tak
terlihat karena tertutup cadar yang sengaja kupakai guna mengurangi masuknya
debu dalam saluran nafasku yang biasanya menyebabkan aku bersin – bersin terus
menerus. Tapi hati ini terbiasa?
Hati
ini mulai terbiasa denganmu tapi kini tak lagi biasa dengannya, bisa kusebutkan
cinta yang kedua, mungkin?! Karena ia masih denganku, tanpa ucapan cinta, tapi
ia yang selalu menemaniku, hari - hariku. Hingga suatu hari ia kembali
mengatakan sayang, dan entah apa yang kupikirkan saat itu juga terucap pula
kata sayang dari bibirku. “Aku masih menyayangimu meski kau buat aku kecewa.” Dan
aku percaya, tapi aku merasakan bodohnya aku saat ia menarik ulur hatiku
sesukanya, merasa tertipu tetapi aku tak bisa mengelak dari rasa ini. Aku
mencintainya Tuhan, mungkin?!
***
Angin
malam membawaku larut dalam kesunyian, mata yang kian ingin diistirahatkan
membuat rasa lelahku kian menjadi. Malam itu tanpa kusadari dan tanpa
kiharapkan pula, seseorang datang tanpa perintahku, tanpa pintaku, itulah dia.
Orang yang aku sayangi. Hingga aku terbiasa kembali entah dengan atau tanpa
cinta aku masih begitu tak mengerti. Setidaknya jalan dengan dia cukup bisa
membuatku nyaman, hingga aku menginginkannya lagi.
Namun
kini tak lagi, kuputuskan pada diriku sendiri jika mulai detik itu aku harus
mampu tanpanya. Ajarkan aku bagaimana aku menggoreskan tinta pada lembaran
kehidupanku tanpa mengingat lagi namanya. Aku hanya berusaha bangkit, melupakan
kejadian kelam dimasa itu, dan ia mampu membangkitkan aku, kembali dengan
senyum pahit madu dibibirku, aku mampu. Tapi kembali saat ia melepaskan
genggaman erat yang selama itu mampu membuat aku bangkit, aku kembali jatuh dan
terpuruk. Dan aku hampir kehilangan asaku untuknya, tapi aku tak pernah bisa
pergi darinya, karena rasa ini terus menghantuiku, begitupun aku terlanjur
masuk dalam kehidupannya, terbuai janji – janji manisnya yang masih hangat
dalam ingatan.
Meski
aku terbiasa denganmu, tepatnya mencoba terbiasa. Aku masih menunggumu dikeluh
kesahmu kelak bercerita perjalanan hidupmu saat kau tak bersamaku.
***
Hari
– hari yang kujalani tanpa ada gairah, terkadang aku pasrah dengan keadaanku
namun terkadang aku berambisi memperbaiki kahidupanku, menggapai apa yang
pernah ku impikan, pernah kita impikan pula.
Merenung
aku dalam kesunyian hati ini, berharap seseorang datang dengan atau pun tanpa
pintaku, baik itu kamu ataupun dirinya. Aku mengharapkan salah seorang diantara
kalian menyandingku disini bersama sebuah hati yang Tuhan ciptakan untuk
memiliki rasa saling mencintai dan menyayangi. Yang harus kupertanyakan kelak,
entah dengan siapa aku akan berada. Dirimu? Dirinya? Atau bahkan tak ada
diantara kalian.
Telah
kupersiapkan diriku menanggung semua yang telah kuperbuat. Menyiapkan hati ini
agar menjadi seorang wanita yang lebih tegar, lebih bisa mandiri. Bertahun –
tahun kedua orang tuaku mendidikku dengan keras, memaksa bahwa aku harus mampu
memberikan kehidupan bagi masa depanku kelak meskipun aku dilahirkan untuk
menghormati seorang yang kelak menjadi imamku namun aku tak boleh
menggantungkan hidupku padanya. Itu yang selama ini mereka ajarkan padaku.
Perasaan
lelah kerap kali menghampiri, membuat aku terpaksa harus menunda mimpiku.
Terkadang aku goyah, sempat melirik dan bahkan menengok jalan lurus yang
sengaja mereka berikan untukku, terkadang aku tersesat namun beruntung Tuhan
masih menyayangiku hingga aku mampu kembali pada jalan yang semula. Namun
karena terbiasa aku menjalani semua ini.
Beberapa
hal yang telah Tuhan tuliskan dalam skenario kehidupanku, aku tak pernah tau,
seperti apa yang Tuhan inginkan. Aku hanya menjalani seluruh alur yang telah
digariskan meski terkadang dengan hati yang dipaksakan, dengan ketidak jelasan
pun aku tetap menjalaninya, karena aku percaya Tuhan pasti memberikan yang
terbaik bagi umat-Nya..
ini cerpen yang kubuat tahun lalu
BalasHapus