Kamis, 10 April 2014

my litte diary

KARENA TERBIASA
Aku dilahirkan belasan tahun yang lalu, bukan untuk menjadi perempuan yang lemah. Bukan menjadi perempuan yang menyerupai lelaki, menyukai dunia luar, aku tidak begitu. Aku lebih suka berdiam dan mencari – cari apa yang bisa kulakukan.
Saat aku duduk dibangku sekolahan yang orang – orang katakan aku seorang Anak Baru Gede (ABG), aku mengenal seorang teman lelaki yang tak begitu tinggi, hampir sama denganku, memiliki dada bidang saat itu, berjalan tegap. Namanya tak akan kusebutkan. Ia yang menemaniku bertahun – tahun hingga aku tak lagi menggenakan seragam, seharusnya begitu.
***
Ditemani sunset pinggir kota, kuteteskan air mata disela percakapan kami. Hingga air mata itu menjadikan semakin terasa sesak didadaku. Ambisi kedua orang tuaku sebelum mereka tau apa yang mengalir diantara kami berdua yang mau tak mau harus aku penuhi, memisahkan aku dari kota ini. Termasuk juga kamu. Diatas benteng kota kami mengucapkan janji untuk saling bersama, dan menunggu. Masih tersimpan hangat dalam ingatanku. Masih bersamanya, kala itu.
Hingga kulepaskan seragamku, seharusnya?!, lebih pantas kusebutkan menerima ijazah sekolah menengah terakhirku, dan hingga terbongkar semua yang selama ini kami tutupi, ia pun juga lepas dari genggamanku selama bertahun – tahun. Senja itu ditepian air yang menggenang, aku kembali meneteskan air mata. Terucap dari bibirmu, kita tak lagi cocok. Pupuslah semua mimpiku, tepatnya mimpi kita. Dan kau pun pergi. Seseorang yang masih hangat dalam ingatanku.
Berbulan aku tak pernah bertemu denganmu, bahkan kau yang sengaja menutup, menghindar dariku. Namun beberapa dari yang kau miliki masih ada bersamaku. Ditengah terik tepian gerbang tempat aku menimba ilmu sekarang, aku dapat lagi menggenggan tanganmu, walau hanya sesaat. Melihat kembali senyum yang pernah menemaniku bertahun – tahun. Aku kembali teringat, menangis dan sesak kurasakan didada ini. Begitu juga engkau, aku tau?! Hatimu masih bergetar.
***
Setahun dimana kita dipisahkan karena keadaan, kelelahan. Kamu kembali. Tapi kini sudah ada dia yang kukenal baik, lelaki yang hampir seukuran denganmu, lebih tinggi, kupikir, labih kurus, namun tak setegap kamu, yang bisa kucintai meski tak seperti aku mencintaimu dulu, lelaki yang membawaku ke dalam kehidupannya. Dan kau hadir mengusik kehidupanku lagi. Meski masih jelas diingatan bagaimana sakitnya saat kau pergi, tapi aku mecoba melupakan sakit itu, tepatnya aku berpura – pura melupakan hal itu. Tapi ia hadir mampu menghapus air mata ini, mengobati luka ini meski bekasnya tetap ada dan tak mungkin menghilang sampai akhir hidupku.
Dia datang mampu menghapus rasa dihatiku, baik rasa benci maupun cintaku padamu. Dia yang takkan kusebutkan namanya mampu membangkitkan rasa yang pernah mati selama setahun ini. Dan aku mulai terbiasa dengannya, dengan cintanya, sikap manisnya dan juga janji – janji manisnya.
***
Namun ternyata aku salah, sangat salah. Dia tak bisa sepertimu dan seharusnya aku tak mengharapkan seseorang yang menjadi dirimu, namun bayangmu masih menghantui dan masih jelas terasa. Keributan mulai menghiasi saat ia meragukan sebuah hal yang selama bertahun aku dengamu. Aku yang baru saja tersenyum, harus kembali merasakan sesak yang teramat sangat. Hingga akhirnya ia pergi dengan alasan dihatinya masih tersimpan hati wanita lain. Yang selama ini aku tak pernah tau hal itu.
***
Sore itu diantara sapuan lembut angin sore, kupelankan putaran roda kuda besi yang mengantarkan aku kembali menghela napas lega setelah seharian dipengapnya area kampus yang terbilang sangat sempit dan cukup seadanya. Dari arah yang berlawanan aku melihat sosok yang tak asing bagiku, benar kamu memang sangat kukenal, seorang lelaki yang bertahun – tahun menghiasi hariku. Itu adalah kamu. Menyusul putaran roda  kuda besiku yang terbilang pelan, karena aku cukup lelah hari itu, kudengar putaran roda yang menyususlku dan pelan saat disampingku, itu kau? Oh Tuhan, bergetar hati ini. Sapaan lembutmu mengacaukan lamunanku. Aku hanya tersenyum namun tak terlihat karena tertutup cadar yang sengaja kupakai guna mengurangi masuknya debu dalam saluran nafasku yang biasanya menyebabkan aku bersin – bersin terus menerus. Tapi hati ini terbiasa?
Hati ini mulai terbiasa denganmu tapi kini tak lagi biasa dengannya, bisa kusebutkan cinta yang kedua, mungkin?! Karena ia masih denganku, tanpa ucapan cinta, tapi ia yang selalu menemaniku, hari - hariku. Hingga suatu hari ia kembali mengatakan sayang, dan entah apa yang kupikirkan saat itu juga terucap pula kata sayang dari bibirku. “Aku masih menyayangimu meski kau buat aku kecewa.” Dan aku percaya, tapi aku merasakan bodohnya aku saat ia menarik ulur hatiku sesukanya, merasa tertipu tetapi aku tak bisa mengelak dari rasa ini. Aku mencintainya Tuhan, mungkin?!
***
Angin malam membawaku larut dalam kesunyian, mata yang kian ingin diistirahatkan membuat rasa lelahku kian menjadi. Malam itu tanpa kusadari dan tanpa kiharapkan pula, seseorang datang tanpa perintahku, tanpa pintaku, itulah dia. Orang yang aku sayangi. Hingga aku terbiasa kembali entah dengan atau tanpa cinta aku masih begitu tak mengerti. Setidaknya jalan dengan dia cukup bisa membuatku nyaman, hingga aku menginginkannya lagi.
Namun kini tak lagi, kuputuskan pada diriku sendiri jika mulai detik itu aku harus mampu tanpanya. Ajarkan aku bagaimana aku menggoreskan tinta pada lembaran kehidupanku tanpa mengingat lagi namanya. Aku hanya berusaha bangkit, melupakan kejadian kelam dimasa itu, dan ia mampu membangkitkan aku, kembali dengan senyum pahit madu dibibirku, aku mampu. Tapi kembali saat ia melepaskan genggaman erat yang selama itu mampu membuat aku bangkit, aku kembali jatuh dan terpuruk. Dan aku hampir kehilangan asaku untuknya, tapi aku tak pernah bisa pergi darinya, karena rasa ini terus menghantuiku, begitupun aku terlanjur masuk dalam kehidupannya, terbuai janji – janji manisnya yang masih hangat dalam ingatan.
Meski aku terbiasa denganmu, tepatnya mencoba terbiasa. Aku masih menunggumu dikeluh kesahmu kelak bercerita perjalanan hidupmu saat kau tak bersamaku.
***
Hari – hari yang kujalani tanpa ada gairah, terkadang aku pasrah dengan keadaanku namun terkadang aku berambisi memperbaiki kahidupanku, menggapai apa yang pernah ku impikan, pernah kita impikan pula.
Merenung aku dalam kesunyian hati ini, berharap seseorang datang dengan atau pun tanpa pintaku, baik itu kamu ataupun dirinya. Aku mengharapkan salah seorang diantara kalian menyandingku disini bersama sebuah hati yang Tuhan ciptakan untuk memiliki rasa saling mencintai dan menyayangi. Yang harus kupertanyakan kelak, entah dengan siapa aku akan berada. Dirimu? Dirinya? Atau bahkan tak ada diantara kalian.
Telah kupersiapkan diriku menanggung semua yang telah kuperbuat. Menyiapkan hati ini agar menjadi seorang wanita yang lebih tegar, lebih bisa mandiri. Bertahun – tahun kedua orang tuaku mendidikku dengan keras, memaksa bahwa aku harus mampu memberikan kehidupan bagi masa depanku kelak meskipun aku dilahirkan untuk menghormati seorang yang kelak menjadi imamku namun aku tak boleh menggantungkan hidupku padanya. Itu yang selama ini mereka ajarkan padaku.
Perasaan lelah kerap kali menghampiri, membuat aku terpaksa harus menunda mimpiku. Terkadang aku goyah, sempat melirik dan bahkan menengok jalan lurus yang sengaja mereka berikan untukku, terkadang aku tersesat namun beruntung Tuhan masih menyayangiku hingga aku mampu kembali pada jalan yang semula. Namun karena terbiasa aku menjalani semua ini.

Beberapa hal yang telah Tuhan tuliskan dalam skenario kehidupanku, aku tak pernah tau, seperti apa yang Tuhan inginkan. Aku hanya menjalani seluruh alur yang telah digariskan meski terkadang dengan hati yang dipaksakan, dengan ketidak jelasan pun aku tetap menjalaninya, karena aku percaya Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi umat-Nya..

1 komentar: