Dear April, masih dengan kisahku yang
entah nantinya akan kubawa kemana, aku sendiri pun belum bisa memastikannya.
Aku selalu berusaha membahagiakan diriku
walau kadang terkesan hal gila yang kulakukan. Aku memiliki kekasih namun
terkadang aku merasa bahwa diriku ini bak tong sampah untuk membuang segala
sampah dalam hati dan pikirannya. Dan aku selalu menghibur diri dengan berkata
“ah hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan.
Dan ketika ada laki – laki yang datang,
aku berusaha memperkuat apa yang telah kugenggam meski aku sadar bahwa apa yang
sedang kugenggam kadang itulah yang membuatku rapuh dan orang lainlah yang
membangkitkan aku. Tetapi yang kucari bukanlah hanya kebahagiaan semata, aku
leih mengharrgai sebuah proses yang sedang kuperjuangkan, walau kadang sakit
mengiris, lelah, rapuh. Tetapi kebahagiaan bersamanya itu terasa mahal
kurasakan. Meski kami kerap kali bertengkar, beda pendapat, tapi bagiku itu
hanyalah kerikil yang akan dengan mudahnya kita singkirkan, angin pun dengan
mudah mampu menyingkirkannya.
***
Entah apa yang sesungguhnya ada
dibenakmu, sampai detik ini pun aku masih tak mengerti. Bukankah kini aku
adalah wanitamu? Tetapi mengapa engkau terus beradu dengan masa lalumu?
Bukankah dia yang pernah menghancurkanmu? Bukankah dia yang memintamu untuk
meninggalkan kalian? Dalam hati ini kadang tersiratkan cemburu, tetapi
pernahkah engkau menyadari? Aku memang tak pernah tau dengan apa yang
sesungguhnya hatimu katakan. Tetapi aku mencoba percaya dengan kata yang
terucap dari bibirmu.
Dan bilakah engkau sanggup, kusarankan
berhenti beradu dengannya, entah aku cemburu, entah aku lelah mendengar
keluhmu, kerapuhanmu, entah aku mulai bosan mendengar ceritamu yang bagiku
hanya akan menambah kesakitanku. Tetapi pernahkah kamu menceritakan tentang
akulah wanitamu kepada wanita lain disana? Pernahkah kau lakukan itu?
Aku diam bukan berarti hatiku pun
terdiam, aku hanya berusaha menjaga agar tak ada kesalahpahaman diantara kita.
Meredam setiap tumpahan emosimu yang selalu kau tumpahkan kepadaku, bersabar,
membimbingmu walau aku sadar kau tak pernah dengarkan aku. Tapi aku tak akan
lelah, entah hingga mulutku berbusa, dan mungkin hingga mulutku tertutup tak
mampu mengungkapkan lagi, aku tetap berusaha ada untuk membawamu ke dalam dunia
ku.
Aku bukan hanya butuh
pertanggungjawabanmu, tetapi aku butuh kamu seutuhnya, segala rasamu, hangat
cintamu. Dan aku pun butuh kau dengar aku. Bukan berarti usia ku tak
mencerminkan pengalaman yang lebih pahit dari apa yang kau alami. Aku memang
muda, jauh lebih muda dibanding kamu, tetapi bukan berarti aku tidak pantas
untuk didengarkan.
Berhentilah menjadi pria yang tak
berharga dimataku, berhentilah menjadi pria yang selalu meninggikan ego tanpa
berusaha mengerti perasaan orang lain. Jika kau terus begitu, kapan segalanya
akan berakhir? Kapan aku ada dihatimu? Kapan kita bisa memulai kebahagiaan
kita?
Beruntung Tuhan masih memberiku stok
kesabaran yang lebih. Otakku masih diberikan kemampuan untuk berfikir jernih,
dan hatiku masih diberi kelapangan menerima semua yang terjadi. Entah bagaimana
akan terjadi jika semua itu raib terbawa angin begitu saja, mungkin kita tak
akan sampai detik ini.
Aku tidak akan memintamu ini itu, hal
yang sulit bagimu, aku tidak akan memohon. Aku hanya ingin meminta telingamu
untuk bersedia mendengarkan aku, itu saja.
nextt.............
Iya..trimakasih telah menyadarkanq ..sekarang nanti dan esok aq akn selallu menyayangimu...mungkin omongan saja tak cukup untk buktiin semua itu..tapi kuharap km akn dapat mersakanya betapa tlus cintaq ke kmu..dan aq tak akn pernah meninggalkanmu..
BalasHapus