Rabu, 16 April 2014

Dear April, masih dengan kisahku yang entah nantinya akan kubawa kemana, aku sendiri pun belum bisa memastikannya.
Aku selalu berusaha membahagiakan diriku walau kadang terkesan hal gila yang kulakukan. Aku memiliki kekasih namun terkadang aku merasa bahwa diriku ini bak tong sampah untuk membuang segala sampah dalam hati dan pikirannya. Dan aku selalu menghibur diri dengan berkata “ah hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan.
Dan ketika ada laki – laki yang datang, aku berusaha memperkuat apa yang telah kugenggam meski aku sadar bahwa apa yang sedang kugenggam kadang itulah yang membuatku rapuh dan orang lainlah yang membangkitkan aku. Tetapi yang kucari bukanlah hanya kebahagiaan semata, aku leih mengharrgai sebuah proses yang sedang kuperjuangkan, walau kadang sakit mengiris, lelah, rapuh. Tetapi kebahagiaan bersamanya itu terasa mahal kurasakan. Meski kami kerap kali bertengkar, beda pendapat, tapi bagiku itu hanyalah kerikil yang akan dengan mudahnya kita singkirkan, angin pun dengan mudah mampu menyingkirkannya.
***
Entah apa yang sesungguhnya ada dibenakmu, sampai detik ini pun aku masih tak mengerti. Bukankah kini aku adalah wanitamu? Tetapi mengapa engkau terus beradu dengan masa lalumu? Bukankah dia yang pernah menghancurkanmu? Bukankah dia yang memintamu untuk meninggalkan kalian? Dalam hati ini kadang tersiratkan cemburu, tetapi pernahkah engkau menyadari? Aku memang tak pernah tau dengan apa yang sesungguhnya hatimu katakan. Tetapi aku mencoba percaya dengan kata yang terucap dari bibirmu.
Dan bilakah engkau sanggup, kusarankan berhenti beradu dengannya, entah aku cemburu, entah aku lelah mendengar keluhmu, kerapuhanmu, entah aku mulai bosan mendengar ceritamu yang bagiku hanya akan menambah kesakitanku. Tetapi pernahkah kamu menceritakan tentang akulah wanitamu kepada wanita lain disana? Pernahkah kau lakukan itu?
Aku diam bukan berarti hatiku pun terdiam, aku hanya berusaha menjaga agar tak ada kesalahpahaman diantara kita. Meredam setiap tumpahan emosimu yang selalu kau tumpahkan kepadaku, bersabar, membimbingmu walau aku sadar kau tak pernah dengarkan aku. Tapi aku tak akan lelah, entah hingga mulutku berbusa, dan mungkin hingga mulutku tertutup tak mampu mengungkapkan lagi, aku tetap berusaha ada untuk membawamu ke dalam dunia ku.
Aku bukan hanya butuh pertanggungjawabanmu, tetapi aku butuh kamu seutuhnya, segala rasamu, hangat cintamu. Dan aku pun butuh kau dengar aku. Bukan berarti usia ku tak mencerminkan pengalaman yang lebih pahit dari apa yang kau alami. Aku memang muda, jauh lebih muda dibanding kamu, tetapi bukan berarti aku tidak pantas untuk didengarkan.
Berhentilah menjadi pria yang tak berharga dimataku, berhentilah menjadi pria yang selalu meninggikan ego tanpa berusaha mengerti perasaan orang lain. Jika kau terus begitu, kapan segalanya akan berakhir? Kapan aku ada dihatimu? Kapan kita bisa memulai kebahagiaan kita?
Beruntung Tuhan masih memberiku stok kesabaran yang lebih. Otakku masih diberikan kemampuan untuk berfikir jernih, dan hatiku masih diberi kelapangan menerima semua yang terjadi. Entah bagaimana akan terjadi jika semua itu raib terbawa angin begitu saja, mungkin kita tak akan sampai detik ini.

Aku tidak akan memintamu ini itu, hal yang sulit bagimu, aku tidak akan memohon. Aku hanya ingin meminta telingamu untuk bersedia mendengarkan aku, itu saja.

nextt.............

1 komentar:

  1. Iya..trimakasih telah menyadarkanq ..sekarang nanti dan esok aq akn selallu menyayangimu...mungkin omongan saja tak cukup untk buktiin semua itu..tapi kuharap km akn dapat mersakanya betapa tlus cintaq ke kmu..dan aq tak akn pernah meninggalkanmu..

    BalasHapus