MAKALAH
RHODAMIN B PADA MAKANAN
Makalah
Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Disusun
Oleh :
UMI
KURNIASIH
NIM
: P07134112081
KEMENTERIAN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN
ANALIS KESEHATAN
TAHUN
2013
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Rhodamin B Pada
Makanan” guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Atas dukungan yang
diberikan rekan – rekan, penulis mengucapkan terima kasih.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk
iti penulis mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan usulan
ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi
perbaikan usulan Makalah ini.
Penulis berharap Makalah
ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, pihak-pihak
yang memerlukan serta menambah amal ibadah penulis dihadapan Allah SWT.
|
|
Yogyakarta, Juni 2014
|
|
|
Penulis
|
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang..................................................................................... 1
B.
Tujuan................................................................................................... 3
C.
Ruang
Lingkup..................................................................................... 3
D.
Manfaat................................................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.
Bahan
Tambahan Makanan (BTM)..................................................... 4
B.
Pewarna
Sintetis................................................................................... 4
C.
Pengertian
Rhodamin B....................................................................... 5
D.
Ciri
– ciri Pewarna Rhodamin B........................................................... 6
E.
Toksisitas
Rhodamin B......................................................................... 6
F.
Analisa
Pewarna Rhodamin B............................................................. 10
G.
Pewarna
Alami Yang Aman Untuk Dikonsumsi.................................. 11
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan........................................................................................... 14
B.
Saran.................................................................................................... 14
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penentuan mutu bahan makanan pada
umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna
tekstur, dan nilai gizinya; disamping itu ada faktor lain, misalnya sifat
mikrobiologis. Tetapi sebelum faktor – faktor lain dipertimbangkan, secara
visual faktor warna tampil lebih dahulu dan kadang – kadang sangat menentukan.
(Cahyadi, 2009)
Selain sebagai faktor yang ikut
menentukan mutu, warna juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau
kematangan. Baik tidaknya cara pencampuran atau cara pengolahan dapat ditandai
dengan adanya warna yang seragam dan merata. (Winarno, 1995)
Ada beberapa hal yang dapat
menyebabkan suatu bahan pangan berwarna, antara lain dengan penambahan zat
pewarna. Secara garis besar, berdasarkan sumbernya dikenal dua jenis pewarna
yang termasuk dalam golongan bahan tambahan pangan, yaitu pewarna alami dan
pewarna sintetis.
Makanan merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia yang terpenting dan juga merupakan faktor yang sangat
esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Tetapi betapapun menariknya penampilan, lezat
rasanya dan tinggi nilai gizinya, apabila tidak aman dikonsumsi, maka makanan
tersebut tidak ada nilainya sama sekali (Winarno dan Rahayu, 1994)
Untuk menganalisa suatu
zat warna perlu mengetahui penggolongannya agar memudahkan dalam pelaksanannya.
Menurut Sardjimah (1996), zat warna dapat digolongkan menjadi empat jenis, yang
pertama berdasarkan asalnya dibagi menjadi dua yaitu zat warna alam dan zat
warna sintetis, yang kedua berdasarkan penyususnnya dibagi menjadi dua yaitu
zat warna pigemn dan lakes, yang ketiga Berdasarkan kelarutannya dibagi menjadi
dua yaitu zat warna larut dalam pelarut lemak/minyak dan zat warna larut dalam
air, dan yang keempat berdasarkan sifat keasamannya dibagi menjadi dua yaitu
zat warna bersifat asam dan zat warna bersifat basa.
Di Indonesia, peraturan
mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur
melalui SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan
tambahan pangan.
Akan tetapi, seringkali
terjadi penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan,
misalnya zat pewarna untuk tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan
pangan. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu
logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan tersebut antara
lain disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk
pangan, dan disamping itu harga zat pewarna untuk industri jauh lebih murah
dibandingkan dengan harga zat pewarna untuk pangan. Hal ini disebabkan bea
masuk zat pewarna untuk bahan pangan jauh lebih tinggi daripada zat pewarna
bahan nonpangan. Lagipula, warna dari zat pewarna tekstil atau kulit biasanya
lebih menarik. (Cahyadi, 2009)
Penulis tertarik untuk mengambil
permasalahan diatas untuk dijadikan bahan untuk memenuhi tugas akhir mata
kuliah bahasa Indonesia yang telah diberikan oleh dosen mata kuliah.
B.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Menambah wawasan tentang rhodamin B
2.
Tujuan khusus
Memenuhi tugas
akhir mata kuliah bahasa Indonesia.
C.
Ruang Lingkup
Dalam
makalah ini kami selaku penulis ingin memaparkan tentang pewarna makanan
khususnya rhodamin B, yaitu :
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud rhodamin B
2.
Dampak yang ditimbulkan apabila
terkonsumsi
3.
Cara
menganalisis pewarna makanan khususnya rhodamin B
4. Alternatif
pewarna alami yang aman bila dikonsumsi
D. Manfaat
Beberapa manfaat dengan disusunnya makalah ini antara
lain :
1. Mengetahui
fungsi rhodamin B
2. Memberikan
pengetahuan dampak rhodamin B bila terkonsumsi
3. Dapat
menganalis pewarna makanan khususnya rhodamin B
4. Mengetahui
pewarna alami yang aman bagi kesehatan
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Bahan Tambahan Makanan (BTM)
Pengertian Bahan Tambahan
Makanan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 772/Menkes/Per/IX/88 No.
1168/menkes/PER/X/1999 secara umum adalah bahan yang biasanya tidak digunakan
sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai
atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk
maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan,
pengemasan dan penyimpanan (Cahyadi, 2009).
Tujuan penggunaan Bahan Tambahan
Makanan adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas
daya simpan, membuat bahan makanan lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah
preparasi bahan makanan. Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang diizinkan
penggunaannya antara lain antioksidan, antikempal, pengatur keasaman, pemanis
buatan, pemutih, pengental, pengawet, pengeras, pewarna, penyedap rasa, dan
sekuesteran (Cahyadi, 2009).
B. Pewarna Sintetis
Warna makanan memegang
peranan utama dalam penampilan makanan, karena meskipun makanan tersebut lezat,
tetapi penampilannya tidak menarik waktu disajikan, akan mengakibatkan selera
orang yang akan memakannya menjadi hilang (Moehyi,1992).
Jenis pewarna yang sering
ditemukan dalam beberapa produk pangan diantaranya adalah Sunset Yellow dan
Tartrazine. Tartrazine dan Sunset Yellow secara komersial digunakan sebagai zat
aditif makanan, dalam pengobatan dan kosmetika yang sangat menguntungkan karena
dapat dengan mudah dicampurkan untuk mendapatkan warna yang ideal dan juga
biaya yang rendah dibandingkan dengan pewarna alami (Pedro et al, 1997).
Di samping itu terdapat
pula pewarna sintetis Rhodamin B ditemukan dalam produk pangan yang seharusnya
digunakan untuk pewarna tekstil. Walaupun memiliki toksisitas yang rendah,
namun pengkonsumsian dalam jumlah yang besar maupun berulang-ulang menyebabkan
sifat kumulatif yaitu iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi pada
mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hati (Trestiati,
2003).
C. Pengertian Rhodamin B
Zat pewarna sintesis yang
sering ditambahkan adalah rhodamin B, yaitu merupakan zat warna sintetik yang
umum digunakan sebagai pewarna tekstil. Rhodamin B merupakan zat warna tambahan
yang dilarang penggunaannya dalam produk-produk pangan. Rhodamin B bersifat
karsinogenik sehingga dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kanker.
Uji toksisitas Rhodamin B telah dilakukan terhadap mencit dan tikus dengan
injeksi subkutan dan secara oral. Rhodamin B dapat menyebabkan karsinogenik
pada tikus ketika diinjeksi subkutan, yaitu timbul sarcoma lokal.
Sedangkan secara IV didapatkan LD5089,5mg/kg yang ditandai dengan gejala adanya
pembesaran hati, ginjal, dan limfa diikuti perubahan anatomi berupa pembesaran
organnya (MerckIndex, 2006).
Rhodamin B merupakan
pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil. Pengaruh buruk rhodamin
b bagi kesehatan antara lain menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan,
kulit, mata dan saluran pencernaan serta berpotensi terjadinya kanker hati.
Penyalahgunaan rhodamin B dalam banyak ditemuipada makanan dan minuman seperti
es cendol, permen, saus tomat dan kue. (Wijaya, 2011)
D. Ciri – ciri Pewarna Rhodamin B
Zat pewarna ini berbentuk serbuk kristal, tidak berbau,
dalam bentuk larutan berwarna merah terang berpendar (berfluorensi). Ciri-ciri
makanan yang mengandung rhodamin B adalah berwarna merah mencolok.
Nama lain dari zat ini adalah Tetraethyl rhodamin, Rheoninc B, O dan C Red
No. 19, Cl Basic Violet 10, Cl No. 45179
E. Toksisitas Rhodamin B
Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa dari
penggunaan zat pewarna ini pada makanan dapat menyebabkan kerusakan organ hati.
Pada pengujian terhadap mencit, diperoleh hasil terjadi perubahan sel hati dari
normal menjadi nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami disintegrasi atau
disorganisasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik
(sel yang mengalami pinositosis) dan hiperkromatik (pewarnaan yang lebih kuat dari normal) dari nucleus. Degenerasi
lemak dan sitolisis dari sitoplasma. Batas antar sel tidak jelas, susunan sel
tidak teratur dan sinusoid tidak utuh. Semakin tinggi dosis yang diberikan,
maka semakin berat tingkat kerusakan jaringan hati mencit. Secara statistic,
terdapat perbedaan yang nyata antara kelompok control dengan kelompok dalam
laju rata-rata pertambahan berat badan mencit.
Rhodamin B merupakan perwarna sintetik
apabila dikonsumsi akan menimbulkan penyakit, hal ini sangat berbahaya bagi
kesehatan tubuh karena adanya residu logam berat pada zat tersebut, sehingga
mengganggu fungsi hati bahkan kanker
hati. Bila mengkonsumsi
makanan yang mengandung zat ini, dalam
tubuh akan terjadi penumpukan lemak, lama-kelamaan jumlahnya terus bertambah, dampaknya
akan kelihatan setelah puluhan tahun kemudian. (Winarto dan Rahayu, 1994).
Pemakaian bahan pewarna sintetik dalam
makanan walaupun mempunyai dampak positif bagi produsen dan konsumen,
diantaranya dapat membuat suatu makanan lebih menarik, meratakan warna makanan,
dan mengembalikan warna dari bahan dasar yang hilang atau berubah selama
pengolahannya, ternyata dapat pula menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan
dan bahkan mungkin member dampak negatif bagi kesehatan.
Hal-hal yang mungkin memberi dampak negatif tersebut terjadi
bila :
1.
Bahan pewarna sintetik tersebut
dimakan dalam jumlah yang kecil namun berulang,
2.
Bahan pewarna sintetik dimakan dalam
jangka waktu yang lama,
3.
Kelompok masyarakat yang luas dengan
daya tahan tubuh yang berbeda-beda, yaitu tergantung umur, jenis kelamin, berat
badan, mutu makanan sehari-hari dan keadaan fisik,
4.
Berbagai lapisan masyarakat yang
mungkin menggunakan bahan pewarna sintetik secara berlebihan,
5.
Penyimpanan
bahan pewarna sintetik oleh pedagang bahan kimia yang tidak memenuhi
persyaratan.
Ciri-ciri bila
terkontaminasi rhodamin B :
1.
Jika tertelan
dan terjadi muntahan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan
menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda.
Tindakan yang harus dilakukan letakkan posisi kepala lebih rendah dari pinggul
untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernapasan
2.
Jika terkena
kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Tindakan yang harus dilakukan, cuci
kulit yang terkontaminasi dengan sabun dan air yang mengalir sampai bersih dari
rhodamin B, selama kurang lebih 15 s.d. 20 menit, bila perlu hubungi dokter
3.
Jika terkena
mata akan mengalami iritasi pada mata, mata akan kemerah-merahan, oedema pada
kelopak mata. Tindakan yang harus dilakukan, bilas dengan air yang mengalir
atau larutan garam fisiologis, mata dikedip-kedipkan samapai dipastikan sisa
rhodamin B sudah tidak ada lagi.
Hasil analisis berupa penelitian
menyatakan bahwa Rhodamin B dapat membahayakan kesehatan manusia yaitu tidak
dapat dicerna oleh tubuh dan akan mengendap secara utuh dalam hati sehingga
dapat menyebabkan keracunan hati. Pengaruh toksisitas yang teramat biasanya
bersifat akut saja yaitu yang pengaruhnya cepat terjadi, sedangkan pengaruh
yang bersifat kronis tidak dapat diketahui secara cepet karena manusia yang
normal memiliki toleransi yang tinggi terhadap racun dalam tubuh dengan adanya
mekanisme detoksifikasi. Selain itu pembeli juga diduga tidak mengonsumsi menu
yang sama setiap harinya. Efek toksik yang disebabkan oleh makanan yang
mengandung pewarna sintetis yang tidak diizinkan dapat timbul pada manusia
karena golongan pewarna sintetik tersebut memang bukan untuk dimakan manusia.
Efek ini tergantung pada banyaknya intake pewarna sintesik yang tidak
diizinkan dan daya tahan seseorang karena dalam tubuh manusia terdapt proses
detoksifikasi di dalam tubuh. Laporan gangguan kesehatan yang akut sebagai
akibat mengonsumsi pewarna sintetis yang tidak diizinkan belum pernah
diperoleh, karena diduga sulit mengenali penyakit ini (Sumarlin, 2010).
Uji toleransi zat warna Rhodamin B
terhadap hewan menunjukkan terjadinya perubahan bentuk dari organisme sel dalam
jaringan hati dari normal ke patologis. Sel hati mengalami perubahan menjadi
nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada
jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik dan hiperkromatik dari
nukleus, degenerasi lemak, dan sitoklis dari sitoplasma. Degenerasi lemak
terjadi akibat terhambatnya pasokan energi dalam hati yang digunakan untuk
memelihara fungsi struktur endoplasmik sehingga mengakibatkan penurunan proses
sintesa protein yang menyebabkan sel hati kehilangan daya untuk mengeluarkan
trigliserida dan mengakibatkan nekrosis hati (Djarismawati, 2004)
F. Analisa Rhodamin B
1.
Cara reaksi kimia
Cara reksi
kimia dilakukan dengan menambahkan pereaksi-pereaksi berikut : HCl pekat, H2SO4
pekat, NaOH 10% dan NH4OH 10%. Lalu diamati reksi apa yang terjadi (reaksi
perubahan warna) pada masing-masing sampel yang sudah dilakukan pemisahan dari
bahan-bahan pengganggu (matriks).
2.
Cara Kromatografi kertas
Sejumlah
cupllikan 30-50 g ditimbang dalam gelas kimia 100 ml, ditambahakan asam asetat
encer kemudian dimasukkan benang wool bebas
lemakl secukupnya, lalu dipanaskan di atas nyala api kecil selama 30 menit
sambil diaduk. Benang wool dipanaskan
dari larutan dan dicuci dengan air dingin berulang-ulang hingga bersih. Pewarna
dilarutkan dari benang wool dengan
penambahan ammonia 10% di atas penangas air hingga sempurna. Larutan berwarna
yang didapat dicuci lagi dengan air hingga bebas ammonia. Totolkan pada kertas
kromatografi, juga totolkan zat pewarna pembanding yang cocok (larutan pekatan
yang berwarna merah gunakan pewarna zat warna merah). Jarak rambatan elusi 12
cm dari tepi bawah kertas. Elusi dengan eluen I (etilmetalketon : aseton : air
= 70 : 30 :30) dan eluen II (2 g NaCl dalam 100 ml etanol 50%). Keringkan
kertas kromatografi di udara dengan suhu kamar. Amati bercak-bercak yang
timbul. Perhitunganzat dengan cara mengukur nilai Rf dari masing-masing bercak
tersebut, dengan cara membagi jarak gerak zat terlarut oleh jarak zat pelarut.
(Cahyadi, 2009)
G. Pewarna Alami Yang Aman Untuk
Dikonsumsi
Banyak warna cemerlang
yang dipunyai oleh tanaman dan hewan dapat digunakan sebagai pewarna untuk
makanan. Beberapa pewarna alami ikut menyumbangkan nilai nutrisi (karotenoid,
riboflavin, dan kobalamin) merupakan bumbu (kunir dan paprika) atau pemberi
rasa (karamel) ke bahan olahannya.
Konsumen dewasa ini banyak
menginginkan bahan alami yang masuk dalam daftar diet mereka. Banyak tadinya
pewarna olahan yang tadinya mengunakan pewarna sintetik berpindah ke pewarna
alami. Sebagai contohnya serbuk beet menggantikan
pewarna merah sintetik FD & C No. 2. Namun penggantian dengan pewarna alami
secara keseluruhan masih harus menunggu para ahli untuk dapat menghilangkan
kendala seperti bagaimana menghilangkan rasa beet-nya, mencegah penggumpalan dalam penyimpanan dan menjaga
kestabilan dalam penyimpanan. (Cahyadi, 2009)
Sifat-sifat bahan pewarna
alami
|
Kelompok
|
Warna
|
Sumber
|
Kelarutan
|
stabilitas
|
|
Karamel
|
Cokelat
|
Gula dipanaskan
|
Air
|
stabil
|
|
Anthosianin
|
Jingga
Merah
biru
|
Tanaman
|
Air
|
Peka
terhadap panas dan pH
|
|
Flavonoid
|
Tampak
kuning
|
Tanaman
|
Air
|
stabil
terhadap panas
|
|
Leucoantho
sianin
|
Tidak
berwarna
|
Tanaman
|
Air
|
Stabil
terhadap panas
|
|
Tannin
|
Tidak
berwarna
|
Tanaman
|
Air
|
Stabil
terhadap panas
|
|
Batalain
|
Kuning,
merah
|
Tanaman
|
Air
|
Sensitif
terhadap panas
|
|
Quinon
|
Kuning-hitam
|
Tanaman
bacteria lumut
|
Air
|
Stabil
terhadap panas
|
|
Xanthon
|
Kuning
|
Tanaman
|
Air
|
Stabil
terhadap panas
|
|
Karotenoid
|
Tanpa
kuning merah
|
Tanaman hewan
|
Lipida
|
Stabil
terhadap panas
|
|
Klorofil
|
Hijau,
coklat
|
Tanaman
|
Lipida dan
air
|
Sensitif
terhadap panas
|
|
Heme
|
Merah,
coklat
|
Hewan
|
Air
|
Sensitif
terhadap panas
|
Sumber :
Cahyadi, 2009
Beberapa pewarna
alami yang biasa digunakan untuk mewarnai
makanan, antara lain :
1.
Karoten Menghasilkan warna jingga
sampai merah. Biasanya digunakan untuk
mewarnai produk-produk minyak dan lemak seperti minyak goring dan
margarin. Dapat diperoleh dari wortel, papaya.
2.
Biksin Memberikan warna kuning seperti mentega.
Biksin diperoleh dari biji pohon Bixa
orellana yang terdapat di daerah tropis dan sering digunakan untuk mewarnai
mentega, margarin, minyak jagung dan salad dressing.
3.
Karamel Berwarna coklat gelap dan
merupakan hasil dari hidrolisis karbohidrat,
gula pasir, laktosa dan sirup malt.
4.
Klorofil Merupakan warna hijau, diperoleh
dari daun. Banyak digunakan untuk makanan. Saat ini bahkan digunakan untuk
berbagai produk kesehatan. Pigmen klorofil banyak terdapat pada dedaunan
(misalnya daun suji, pandan, katuk, dan sebagainya). Daun suji, daun katuk, dan
daun pandan sebagai penghasil warna hijau untuk berbagai jenis kue jajanan
pasar
5.
Antosianin Penyebab warna merah, orange, ungu dan
biru. Banyak terdapat pada bunga dan buah-buahan seperti bunga mawar, pacar
air, kembang sepatu dan buah apel, strobery.
6.
Kurkumin Berasal dari kunyit sebagai salah
satu bumbu dapur sekaligus memberi warna kuning pada masakan yang kita buat.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
- Rhodamin B merupakan pewarna tekstil yang
berbahaya bila dikonsumsi. Zat pewarna ini berbentuk serbuk Kristal, tidak
berbau, dalam bentuk larutan berwarna merah terang berpendar
(berfluorescensi).
- Rhodamin B merupakan perwarna
sintetik apabila dikonsumsi akan menimbulkan penyakit, hal ini sangat
berbahaya bagi kesehatan tubuh karena adanya residu logam berat pada zat
tersebut, sehingga mengganggu fungsi hati bahkan kanker hati.
- Kita dapat melakukan analisis sederhana untuk mengetahui kandungan
suatu makanan dengan metoda kromatografi
- Pewarna alami dapat diperoleh dari buah-buahan dan tanaman
B.
Saran
1. Setelah
kita mengetahui definisi rhodamin B oleh karena itu berhati-hatilah dengan
makanan yang mengandung pewarna sintetik
- Jika
kita pernah memakan makanan yang mengandung rhodamin B, mulai saat ini
berhentilah agar tidak ada residu logam berat yang menumpuk pada tubuh
kita, sehingga kita bisa menghindar dari kanker hati
- Lakukan
analisis sederhana untuk mengetahui apakah suatu makanan mengandung
pewarna sintetik atau tidak
- Mulai
saat ini beralihlah memakai pewarna alami
DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, W.
2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan
Tambahan Pangan. Jakarta : Bumi Aksara
Djarismawati. 2004. Pengetahuan dan
Prilaku Pedagang Cabe Merah Giling dalam Penggunaan Rhodamin B di Pasar
Tradisional di DKI Jakarta. Jurnal
Ekologi Kesehatan Vol 3(1)
MerckIndex. 2006. Chemistry Constant Companion,
Nowwitha NewAdditon, Ed14Th, 1410,1411, Merck&Co.,Inc,White house Station, NJ,
USA.
Moehyi, S. 1992. Penyelenggaraan
Makanan Institusi dan Jasa Boga. Jakarta: Bharata
Pedro, L.L, Leticia LM, Luis IMR,
Katarzyna W, Kazimierz W, and Judith A.H. 1997. Extraction of Sunset Yellow and
Tartrazine by Ion-pair Frmation With Adogen-464 and Tfeir Simultaneous
Determination by Bivariate Calibration and Derivative Spectrophotometry. Analyst.
122 : 1575 – 1579.
Sumarlin L. 2010. Identifikasi Pewarna
Sintetis pada Produk Pangan yang Beredar di Jakarta dan Ciputat. Jurnal Valensi Vol1 (6).
Trestiati, M. 2003. Analisis
Rhodamin B pada Makanan dan Minuman Jajanan Anak SD (Studi Kasus :
Sekolah Dasar di Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung). Thesis. ITB. Bandung.
Wijaya, D.
2011. Waspadai Zat Aditif dalam
Makananmu. Jogjakarta: Penerbit Buku Biru
Winarno, F.
G. 1995. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta
: PT Gramedia Pustaka Utama
Winarno,
F.G. dan S.F. Rahayu. 1994. Bahan
Tambahan untuk Makanan dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.